Home
-- Menikmati Peran Ibu --
Another Place my pictures ~ friend for life ~ bintang kecil ~ jendela dunia ~ anugerah dan amanah ~ ddyva ~ my kinja weblog April 2006
 
 
 
 
 
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
 
 
 
 
 
 
Thu, Apr. 13th, 2006 10:13 pm

Suatu pagi, ibu sedang mencuci piring di dapur. Hafiz datang, mendekati rak piring. Piring keramik bergambar kelinci diambil. "Ayah… ayah…," kata Hafiz. Ibu menjawab, "iya, itu piring ayah." Piring itu memang biasa dipakai ayah.
Piring kelinci diletakkan kembali. Kali ini tangan Hafiz menunjuk piring beling di deretan belakang. "Ibu…ibu…," kata Hafiz kemudian. "Iya, itu piring Ibu," jawab ibu.
Tangan Hafiz kemudian meraih piring kecil berbahan Tupperware. "Hapis," katanya singkat. Ibu tersenyum. "Oo.. yang itu punya Hafiz ya.." Piring itu biasa dipakai Hafiz untuk bermain-main.
Hafiz sudah bisa menunjukkan barang-barang yang biasa dipakai orang-orang yang biasa ia temui. Bukan hanya piring, tapi juga gelas, baju, dan sepatu.
**
Pagi hari, Hafiz ikut ibu berbelanja ke tukang sayur. Saat tiba, perhatiannya segera tertuju ke ikatan plastik berisi kerupuk di gerobak sayur. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil tangannya memegang plastik kerupuk.
"Hafiz mau kerupuk?" Tanya Ibu. Hafiz mengangguk. Plastik kerupuk itupun berpindah tangan.
Lain waktu, Hafiz bermain di halaman depan rumah. Seekor kupu-kupu terbang melintas, dan hinggap di salah satu bunga. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil menatap kupu-kupu. Ibu menyahut, "Iya, itu kupu-kupu."
Di dalam rumah, jika ibu sedang menulis di buku, Hafiz mendekat. "Buku…buku…" kata Hafiz sambil berusaha meraih buku di meja. Ibu memberikan buku tulis beserta pulpennya. Hafiz kemudian meletakkannya di lantai dan mulai mencorat-coret.
Bukan hanya kata buku yang punya arti ganda kalau diucapkan Hafiz. Kata "semu" bisa berarti semut atau jemur. Tergantung pada kondisi saat itu, dan apa yang Hafiz tunjuk atau lihat.


Cibeureum, 10 April 2006

Current Mood: giggly

1CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Thu, Apr. 13th, 2006 03:17 am

Anakku sedang ingin melakukan banyak hal sendiri. Salah satunya, membuat susu dalam botol.Saat ingin minum susu, saya hanya perlu menyiapkan air dalam botol, dan si kecil yang menjelang dua tahun itu akan melakukan pekerjaan selanjutnya. Memasukkan sendok demi sendok susu bubuk ke dalamnya, kemudian memasang tutup dan memutarnya. Masih berantakan tentu. Butiran-butiran susu pun bertebaran di alas dan lantai.
Saya menganggapnya sebagai proses belajar. Tidak apa-apa lantai dapur kotor dengan susu bubuk. Hanya sedikit dan mampu dibersihkan dengan disapu dan dipel. Mudah-mudahan bagi si kecil, proses ini mampu membuatnya belajar untuk lebih mandiri.
Setahun sebelumnya, si kecil sedang belajar makan sendiri. Mencoba menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulut mungilnya. Alas tempatnya makan, juga baju yang ia kenakan, biasanya akan kotor dengan tumpahan makanan. Tapi lihatlah, kini ia makan dengan lebih rapi. Belum bisa sepenuhnya tertib. Beberapa butir nasi masih berjatuhan ke lantai. Tapi sudah jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya.
Beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti seminar bertema pendidikan. Pembicaranya adalah seorang psikolog dengan 11 anak. Ia mengatakan bahwa anak yang dalam masa pertumbuhannya sering menerima larangan dari orang tua akan menjadi seorang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Misalnya saja, anak kecil yang mencoba membantu membereskan piring di meja makan. Dengan alasan takut pecah, orang tua melarang dia untuk membantu. Di saat lain, ketika dia mencoba melakukan pekerjaan yang lain, orang tua melarang dengan alasan ia belum mampu. Terlalu sering dilarang seperti itu, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal. Keyakinan ini bisa jadi akan dia bawa hingga ia dewasa.
Untuk anak saya yang saat ini berumur 2 tahun, masih banyak proses dan tahapan yang harus dilewati untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Perlu bantuan dari orang-orang di sekelilingnya untuk menanamkan kepercayaan diri atas kemampuan yang ia miliki untuk melakukan banyak hal. Mudah-mudahan proses dan tahapan ini bisa dijalani dengan sebaik-baiknya.


Bogor, 20 Maret 2006

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Thu, Apr. 13th, 2006 02:49 am

Anak-anak adalah peniru ulung. Hafiz juga begitu. Sebagai ibu, saya mencoba mencatat apa saja yang dia tiru dari lingkungannya. Sebetulnya ada banyak hal yang dia tiru. Yang tercatat di sini adalah perilaku yang berulang-ulang ditunjukkan hafiz.
Satu hal yang paling sering dilakukan Hafiz adalah meniru gerakan sholat. Sepertinya dia meniru ayahnya melakukan sholat. Aaba (maksudnya Allahu akbar) sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Lalu ia meletakkan dua tangan di dada. Kemudian sujud. Ya, ia memang sering melewatkan ruku. Mungkin sikap ruku termasuk sulit ia tiru. Ia kemudian duduk, sambil jari tangannya meniru saat tasyahud. Jika diucapkan assalamualaikum, kepalanya akan menoleh ke kiri dan kanan. Saat proses sholat berlangsung, mulutnya akan bergerak-gerak seperti bergumam.
Hal lain yang ia tiru dari ibunya adalah mencuci pakaian dalam ember. Hampir setiap pagi, ia melihat ibunya mencuci celana kotor dan menguceknya. Itu pula yang ia lakukan ketika melihat celana kotor dalam ember. Mengucek-kucek layaknya sedang mencuci.
Kali lain ia akan mengambil gagang pel dan mulai menempelkan lap pelnya ke lantai. Atau mengambil sapu dan mulai menyapu meski lantai sebenarnya tidak kotor.
Hanya hal-hal yang baikkah yang ia tiru? Tentu tidak. Tapi bukan saatnya menulis hal-hal kurang baik yang ia tiru dari orang tuanya.
Satu pertanyaan terbersit dalam hati. Sudahkah kami -orang tuanya- menjadi teladan yang memberi contoh baik bagi putra kecil kami? Usaha untuk menjadi teladan yang baik tentu sudah dilakukan. Tapi tidak ada orang yang sempurna. Ada saja celah dimana perilaku yang kami tunjukkan sebenarnya tidak layak untuk ditiru. Mudah-mudahan kami bisa terus berusaha menjadi dan memberikan teladan yang baik baginya.



Bogor, 20 Maret 2006

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Wed, Jul. 7th, 2004 03:21 pm

something to remind myself..


Sometimes, when the world’s not on your side
You don't know where to run to
You don't know where to hide
You gaze, at the stars in the sky
At the mountains so high
Through the tears in you eyes
Looking for a reason, to replace what is gone
Just remember, remember, that you are never alone

You are never alone
Just reach into your heart and Allah is always there

You are never alone
Through sorrow and through grief
Through happiness and peace
You will never be alone
So now, as you long for your past
Prepare for your future
But knowing nothing’s going to last
You see, this life is but a road
A straight and narrow path
To our final abode
So travel well o Muslim and paradise will be your home
And always remember, you are never alone

Current Mood: crappy
Current Music: you are never alone - zain bikha

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Thu, Jul. 1st, 2004 07:28 am

Hari ini, tepat dua bulan usia Hafiz
Hafiz sudah bisa apa?
beberapa teman sering menanyakan itu

Hafiz sudah bertambah berat sekarang
terakhir ditimbang, beratnya 6 kilogram
Sudah makin pintar ia
Jam tidurnya mulai teratur, meski kadang masih merepotkan juga
Refleks moronya masih ada, meski sudah jauh berkurang
refleks babinskinya pun begitu

Mainan favoritnya,
tasbih yang digoyangkan di atas kepalanya
Diajak bicara orang-orang di sekelilingnya pun ia suka
Kalau sudah diajak ngobrol begitu,
senyum manisnya mengembang, mulut mungilnya ikut bergerak,
matanya ikut 'berbicara'

Tangannya sudah mulai berusaha meraih benda di dekatnya
Genggamannya kuat meski sesaat kemudian ia lepaskan lagi

Ia mulai berusaha menelungkupkan badannya
Belum cukup usia, tentu saja usahanya masih belum berhasil juga
Dibantu, ia baru bisa menelungkupkan badan
perlahan-lahan kepalanya bergerak
lalu......
Hup! kepalanya mengangkat sebentar
hanya beberapa detik
tapi sudah membuat gembira orang-orang yang menyayanginya

Mudah-mudahan
Ia jadi anak yang sholeh dan bahagia, dunia akhiratnya
Mudah-mudahan juga
orang tuanya dikaruniai kemampuan untuk mendidiknya dengan benar

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."

Current Mood: hopeful
Current Music: Aku Anak Sholeh - Snada

1CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Sun, Jun. 20th, 2004 07:14 pm

Sebentar lagi insya Allah kembali ke kampung halaman. Salah satu yang jadi bahan pikiran (meski bukan jadi prioritas) adalah oleh-oleh. Apa yang akan dibawa nanti? Seorang teman pernah menulis, kalau oleh-olehnya adalah sesuatu "yang lucu, yang gak berat, yang khas jepang, yang gak mahal." Berfikir, kalau kriterianya seperti itu, apa ya yang nanti dibawa? Tapi beliau juga menulis, jangan sampe oleh-oleh itu jadi alat untuk pamer. Hmm..

Masih di tulisan teman, mengingat teman-teman di jepang ini, sepertinya akan ada oleh-oleh yang mungkin akan mereka bawa nanti: kemandirian, kesederhanaan, kekuatan hati, serta ketawakkalan yang lebih. Hhh... sesuatu yang membuat berkaca pada diri. Akankah saya membawa hal-hal seperti itu nanti?

Fukuoka panas sekali 2 hari terakhir ini. Termometer di atas meja menunjukkan angka 34 derajat celcius saat menulis entri ini. Dari berita, katanya akan ada taifu yang lewat di Kyushuu.

Current Mood: hot
Current Music: would you be happier - the corrs

3CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Sat, Jun. 19th, 2004 05:06 pm

Sebuah diskusi menyoal tentang peran orang tua di sebuah milis.
(kepada teman-teman yang emailnya saya ambil, maaf ga minta ijin dulu..)
email pembuka )
tanggapan pertama )
tanggapan kedua )
tanggapan ketiga )

Mungkin diskusinya kurang bisa difahami, karena yang saya lakukan hanya mengkopi paste dari email aslinya. Setidaknya -bagi saya- ada pencerahan baru di sana.

Current Mood: calm

3CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Fri, Jun. 18th, 2004 05:01 pm

2 judul yang gak nyambung, skip aja karena cuma 'words of nothing' (istilah siape tuuu..?)

inisiatif )
sepeda )

Current Mood: grumpy

5CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Thu, Jun. 17th, 2004 09:30 pm

Membaca artikel ini, jadi merenung soal peran ibu dari seorang anak laki-laki. Satu hal yang mungkin dulu tidak terpikirkan. Hmm...

Ibu dan Anak Laki-laki )

mudah-mudahan bisa jadi ibu yang baik.. amiin

Current Mood: thoughtful

4CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Mon, Jun. 14th, 2004 10:38 pm

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan Bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat boleh kau kunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka mnyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam dimasa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.
(Khalil Gibran)


"Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu"
(Ali bin Abi Thalib)

Current Mood: gloomy

9CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Mon, Jun. 14th, 2004 10:32 pm

If a child lives with criticism, he learns to condemn;

If a child lives with hostility, he learns to fight;

If a child lives with ridicule, he learns to be shy;

If a child lives with shame, he learns to feel guilty;

If a child lives with tolerance, he learns to be patient;

If a child lives with encouragement, he learns confidence;

If a child lives with praise, he learns to appreciate;

If a child lives with fairness, he learns justice;

If a child lives with security, he learns to have faith;

If a child lives with approval, he learns to like himself;

If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world.

-Dorothy Law Holte-

Current Mood: hopeful
Current Music: Ode Anak - Raihan

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Sat, May. 15th, 2004 08:28 pm


Current Mood: loved
Current Music: asmaul husna - hijjaz

2CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Fri, Apr. 30th, 2004 07:51 pm

"We have enjoined on man kindness to his parents: In pain did his mother bear him, and in pain did she give him birth. The carrying of the (child) to his weaning is (a period of) thirty months. At length, when he reaches the age of full strength and attains forty years, he says, "O my Lord! Grant me that I may be grateful for Thy favour which Thou has bestowed upon me, and upon both my parents, and that I may work righteousness such as Thou mayest approve; and be gracious to me in my issue. Truly have I turned to Thee and truly do I bow (to Thee) in Islam."(46:15)

"O my Lord! Grant me a righteous (son)!" (37:100)

Current Mood: hopeful
Current Music: Ode Anak- Raihan

1CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Sun, Apr. 25th, 2004 10:44 am



Foto (lagi), sisanya bisa diliat di flowers in uminonakamichi album.

Selalu menyenangkan bisa memotret pemandangan, apalagi bunga. Bukan fotografer profesional, cuma menggunakan kamera digital yang kapasitas memorynya sedikit.
tentang uminonakamichi )

4CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Sun, Apr. 18th, 2004 06:04 am

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (al-Baqarah:154)

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Advertisement