Home
-- Menikmati Peran Ibu -- - April 13th, 2006
Another Place my pictures ~ friend for life ~ bintang kecil ~ jendela dunia ~ anugerah dan amanah ~ ddyva ~ my kinja weblog April 2006
 
 
 
 
 
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
 
 
 
 
 
 
April 13th, 2006
Thu, Apr. 13th, 2006 02:49 am

Anak-anak adalah peniru ulung. Hafiz juga begitu. Sebagai ibu, saya mencoba mencatat apa saja yang dia tiru dari lingkungannya. Sebetulnya ada banyak hal yang dia tiru. Yang tercatat di sini adalah perilaku yang berulang-ulang ditunjukkan hafiz.
Satu hal yang paling sering dilakukan Hafiz adalah meniru gerakan sholat. Sepertinya dia meniru ayahnya melakukan sholat. Aaba (maksudnya Allahu akbar) sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Lalu ia meletakkan dua tangan di dada. Kemudian sujud. Ya, ia memang sering melewatkan ruku. Mungkin sikap ruku termasuk sulit ia tiru. Ia kemudian duduk, sambil jari tangannya meniru saat tasyahud. Jika diucapkan assalamualaikum, kepalanya akan menoleh ke kiri dan kanan. Saat proses sholat berlangsung, mulutnya akan bergerak-gerak seperti bergumam.
Hal lain yang ia tiru dari ibunya adalah mencuci pakaian dalam ember. Hampir setiap pagi, ia melihat ibunya mencuci celana kotor dan menguceknya. Itu pula yang ia lakukan ketika melihat celana kotor dalam ember. Mengucek-kucek layaknya sedang mencuci.
Kali lain ia akan mengambil gagang pel dan mulai menempelkan lap pelnya ke lantai. Atau mengambil sapu dan mulai menyapu meski lantai sebenarnya tidak kotor.
Hanya hal-hal yang baikkah yang ia tiru? Tentu tidak. Tapi bukan saatnya menulis hal-hal kurang baik yang ia tiru dari orang tuanya.
Satu pertanyaan terbersit dalam hati. Sudahkah kami -orang tuanya- menjadi teladan yang memberi contoh baik bagi putra kecil kami? Usaha untuk menjadi teladan yang baik tentu sudah dilakukan. Tapi tidak ada orang yang sempurna. Ada saja celah dimana perilaku yang kami tunjukkan sebenarnya tidak layak untuk ditiru. Mudah-mudahan kami bisa terus berusaha menjadi dan memberikan teladan yang baik baginya.



Bogor, 20 Maret 2006

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Thu, Apr. 13th, 2006 03:17 am

Anakku sedang ingin melakukan banyak hal sendiri. Salah satunya, membuat susu dalam botol.Saat ingin minum susu, saya hanya perlu menyiapkan air dalam botol, dan si kecil yang menjelang dua tahun itu akan melakukan pekerjaan selanjutnya. Memasukkan sendok demi sendok susu bubuk ke dalamnya, kemudian memasang tutup dan memutarnya. Masih berantakan tentu. Butiran-butiran susu pun bertebaran di alas dan lantai.
Saya menganggapnya sebagai proses belajar. Tidak apa-apa lantai dapur kotor dengan susu bubuk. Hanya sedikit dan mampu dibersihkan dengan disapu dan dipel. Mudah-mudahan bagi si kecil, proses ini mampu membuatnya belajar untuk lebih mandiri.
Setahun sebelumnya, si kecil sedang belajar makan sendiri. Mencoba menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulut mungilnya. Alas tempatnya makan, juga baju yang ia kenakan, biasanya akan kotor dengan tumpahan makanan. Tapi lihatlah, kini ia makan dengan lebih rapi. Belum bisa sepenuhnya tertib. Beberapa butir nasi masih berjatuhan ke lantai. Tapi sudah jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya.
Beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti seminar bertema pendidikan. Pembicaranya adalah seorang psikolog dengan 11 anak. Ia mengatakan bahwa anak yang dalam masa pertumbuhannya sering menerima larangan dari orang tua akan menjadi seorang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Misalnya saja, anak kecil yang mencoba membantu membereskan piring di meja makan. Dengan alasan takut pecah, orang tua melarang dia untuk membantu. Di saat lain, ketika dia mencoba melakukan pekerjaan yang lain, orang tua melarang dengan alasan ia belum mampu. Terlalu sering dilarang seperti itu, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal. Keyakinan ini bisa jadi akan dia bawa hingga ia dewasa.
Untuk anak saya yang saat ini berumur 2 tahun, masih banyak proses dan tahapan yang harus dilewati untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Perlu bantuan dari orang-orang di sekelilingnya untuk menanamkan kepercayaan diri atas kemampuan yang ia miliki untuk melakukan banyak hal. Mudah-mudahan proses dan tahapan ini bisa dijalani dengan sebaik-baiknya.


Bogor, 20 Maret 2006

CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Thu, Apr. 13th, 2006 10:13 pm

Suatu pagi, ibu sedang mencuci piring di dapur. Hafiz datang, mendekati rak piring. Piring keramik bergambar kelinci diambil. "Ayah… ayah…," kata Hafiz. Ibu menjawab, "iya, itu piring ayah." Piring itu memang biasa dipakai ayah.
Piring kelinci diletakkan kembali. Kali ini tangan Hafiz menunjuk piring beling di deretan belakang. "Ibu…ibu…," kata Hafiz kemudian. "Iya, itu piring Ibu," jawab ibu.
Tangan Hafiz kemudian meraih piring kecil berbahan Tupperware. "Hapis," katanya singkat. Ibu tersenyum. "Oo.. yang itu punya Hafiz ya.." Piring itu biasa dipakai Hafiz untuk bermain-main.
Hafiz sudah bisa menunjukkan barang-barang yang biasa dipakai orang-orang yang biasa ia temui. Bukan hanya piring, tapi juga gelas, baju, dan sepatu.
**
Pagi hari, Hafiz ikut ibu berbelanja ke tukang sayur. Saat tiba, perhatiannya segera tertuju ke ikatan plastik berisi kerupuk di gerobak sayur. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil tangannya memegang plastik kerupuk.
"Hafiz mau kerupuk?" Tanya Ibu. Hafiz mengangguk. Plastik kerupuk itupun berpindah tangan.
Lain waktu, Hafiz bermain di halaman depan rumah. Seekor kupu-kupu terbang melintas, dan hinggap di salah satu bunga. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil menatap kupu-kupu. Ibu menyahut, "Iya, itu kupu-kupu."
Di dalam rumah, jika ibu sedang menulis di buku, Hafiz mendekat. "Buku…buku…" kata Hafiz sambil berusaha meraih buku di meja. Ibu memberikan buku tulis beserta pulpennya. Hafiz kemudian meletakkannya di lantai dan mulai mencorat-coret.
Bukan hanya kata buku yang punya arti ganda kalau diucapkan Hafiz. Kata "semu" bisa berarti semut atau jemur. Tergantung pada kondisi saat itu, dan apa yang Hafiz tunjuk atau lihat.


Cibeureum, 10 April 2006

Current Mood: giggly

1CommentReplyAdd to MemoriesTell a Friend

Advertisement