|
-- Menikmati Peran Ibu -- - April 13th, 2006
|
|
|
 |
Thu, Apr. 13th, 2006 03:17 am
|
|
|
Anakku sedang ingin melakukan banyak hal sendiri. Salah satunya, membuat susu dalam botol.Saat ingin minum susu, saya hanya perlu menyiapkan air dalam botol, dan si kecil yang menjelang dua tahun itu akan melakukan pekerjaan selanjutnya. Memasukkan sendok demi sendok susu bubuk ke dalamnya, kemudian memasang tutup dan memutarnya. Masih berantakan tentu. Butiran-butiran susu pun bertebaran di alas dan lantai. Saya menganggapnya sebagai proses belajar. Tidak apa-apa lantai dapur kotor dengan susu bubuk. Hanya sedikit dan mampu dibersihkan dengan disapu dan dipel. Mudah-mudahan bagi si kecil, proses ini mampu membuatnya belajar untuk lebih mandiri. Setahun sebelumnya, si kecil sedang belajar makan sendiri. Mencoba menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulut mungilnya. Alas tempatnya makan, juga baju yang ia kenakan, biasanya akan kotor dengan tumpahan makanan. Tapi lihatlah, kini ia makan dengan lebih rapi. Belum bisa sepenuhnya tertib. Beberapa butir nasi masih berjatuhan ke lantai. Tapi sudah jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya. Beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti seminar bertema pendidikan. Pembicaranya adalah seorang psikolog dengan 11 anak. Ia mengatakan bahwa anak yang dalam masa pertumbuhannya sering menerima larangan dari orang tua akan menjadi seorang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Misalnya saja, anak kecil yang mencoba membantu membereskan piring di meja makan. Dengan alasan takut pecah, orang tua melarang dia untuk membantu. Di saat lain, ketika dia mencoba melakukan pekerjaan yang lain, orang tua melarang dengan alasan ia belum mampu. Terlalu sering dilarang seperti itu, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal. Keyakinan ini bisa jadi akan dia bawa hingga ia dewasa. Untuk anak saya yang saat ini berumur 2 tahun, masih banyak proses dan tahapan yang harus dilewati untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Perlu bantuan dari orang-orang di sekelilingnya untuk menanamkan kepercayaan diri atas kemampuan yang ia miliki untuk melakukan banyak hal. Mudah-mudahan proses dan tahapan ini bisa dijalani dengan sebaik-baiknya.
Bogor, 20 Maret 2006  
|
|
|
 |
Thu, Apr. 13th, 2006 10:13 pm
|
|
|
Suatu pagi, ibu sedang mencuci piring di dapur. Hafiz datang, mendekati rak piring. Piring keramik bergambar kelinci diambil. "Ayah… ayah…," kata Hafiz. Ibu menjawab, "iya, itu piring ayah." Piring itu memang biasa dipakai ayah. Piring kelinci diletakkan kembali. Kali ini tangan Hafiz menunjuk piring beling di deretan belakang. "Ibu…ibu…," kata Hafiz kemudian. "Iya, itu piring Ibu," jawab ibu. Tangan Hafiz kemudian meraih piring kecil berbahan Tupperware. "Hapis," katanya singkat. Ibu tersenyum. "Oo.. yang itu punya Hafiz ya.." Piring itu biasa dipakai Hafiz untuk bermain-main. Hafiz sudah bisa menunjukkan barang-barang yang biasa dipakai orang-orang yang biasa ia temui. Bukan hanya piring, tapi juga gelas, baju, dan sepatu. ** Pagi hari, Hafiz ikut ibu berbelanja ke tukang sayur. Saat tiba, perhatiannya segera tertuju ke ikatan plastik berisi kerupuk di gerobak sayur. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil tangannya memegang plastik kerupuk. "Hafiz mau kerupuk?" Tanya Ibu. Hafiz mengangguk. Plastik kerupuk itupun berpindah tangan. Lain waktu, Hafiz bermain di halaman depan rumah. Seekor kupu-kupu terbang melintas, dan hinggap di salah satu bunga. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil menatap kupu-kupu. Ibu menyahut, "Iya, itu kupu-kupu." Di dalam rumah, jika ibu sedang menulis di buku, Hafiz mendekat. "Buku…buku…" kata Hafiz sambil berusaha meraih buku di meja. Ibu memberikan buku tulis beserta pulpennya. Hafiz kemudian meletakkannya di lantai dan mulai mencorat-coret. Bukan hanya kata buku yang punya arti ganda kalau diucapkan Hafiz. Kata "semu" bisa berarti semut atau jemur. Tergantung pada kondisi saat itu, dan apa yang Hafiz tunjuk atau lihat.
Cibeureum, 10 April 2006 Current Mood:  giggly  
|
| |