| c a h a y a ( @ 2004-02-14 18:48:00 |
| Current mood: |
Tiga Hal yang Tidak Luput dari Seseorang
Pagi ini baca majalah Tarbawi. Ada kata-kata yang menarik untuk direnungkan.
Tiga hal, yang seseorang tidak bisa selamat dari sebagian diantaranya: prasangka, gegabah dan dengki. Akan kuberitakan kepada kalian bagaimana cara keluar dari ketiganya. Jika engkau menyangka, maka janganlah engkau menyelidiki. Jika engkau gegabah, maka lewatilah. Jika engkau dengki janganlah berbuat aniaya. (H.R Ibnu Abid-Dun-Ya).
Jika engkau menyangka, maka janganlah engkau menyelidiki. Hmm... sesuatu yang jadi bahan perenungan panjang. Entahlah, rasanya membaca bagian ini terasa ada yang langsung mengena di hati. Pernah ada saat, kita memiliki prasangka dan rasanya ingiiiiin sekali bisa memastikan benar atau tidaknya prasangka kita itu. Namanya prasangka, umumnya yang kita (saya maksudnya) ingin sekali tahu kepastiannya adalah prasangka yang kurang baik (mungkin malah bisa disebut sebagai prasangka negatif - su'uzhon). Karena kalau yang ada dalam pikiran dan perasaan adalah prasangka baik, kita akan dengan mudah melupakan dan membiarkan apa yang terjadi sebagaimana adanya. Seringkali, upaya mencari kepastian tentang suatu prasangka itu dilandasi dengan niat iseng. Maksudnya mungkin, kalau sudah jelas apakah prasangka itu benar atau tidak, setidaknya hati menjadi tenang. Benarkah akan menjadi tenang? entahlah.. bisa jadi bukan ketenangan yang diperoleh tapi malah kekecewaan.
Sesungguhnya dalam Al Qur'an surat Al Hujurat ayat 12 sudah jelas dikemukakan mengenai prasangka ini. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Astaghfirullahaladziim.. Rasanya saya perlu sekali banyak beristighfar karena merasa masih saja sulit menjauhkan diri dari berprasangka terhadap orang lain.
Padahal, ilmu menghindari prasangka negatif ini sudah lama diperoleh dan juga seringkali didengar di banyak forum. Obat prasangka negatif adalah berpikir positif! Contoh kecil yang sering dialami. Ada saat kita berjumpa dengan teman, dan beliau luput menyapa kita. Segera saja, lintasan hati kita umumnya 'sombong benar orang ini!' Dan kemudian di saat lain, ketika kita bertemu dengan beliau lagi, kita segan untuk mencoba menyapanya terlebih dulu. Kadang-kadang malah, saat berbincang dengan teman yang lain, kita mungkin akan mengucapkan 'beliau itu sombong ya, ketemu di jalan kok gak nyapa. Pura-pura gak ngeliat gitu..' Astaghfirullah... Padahal mudah saja bagi kita untuk berpikir positif, dan berpikir positif pun tidak memberikan kerugian buat kita. Kita bisa saja berpikir saat bertemu beliau dan tidak disapa, 'ah, mungkin beliau sedang sibuk dan buru-buru karena ada urusan.'
Perlu diakui, menghindari prasangka dan berpikir positif butuh usaha dan tekad yang kuat dalam diri untuk menjadikannya sebuah perilaku. Tapi bukan berarti hal itu tidak bisa dilakukan. Mudah-mudahan kita bisa melakukannya..