c a h a y a ([info]nurafiati) wrote,
@ 2004-06-17 21:30:00
Previous Entry  Add to memories!  Tell a Friend  Next Entry
Current mood: thoughtful

Ibu dan Anak Laki-laki
Membaca artikel ini, jadi merenung soal peran ibu dari seorang anak laki-laki. Satu hal yang mungkin dulu tidak terpikirkan. Hmm...


Ibu dan Anak Laki-laki

Oleh: Femina Sagita Borualogo

Sekitar satu bulan ini, ada satu hal yang memenuhi pikiran saya. Bagaimana cara mendidik anak laki-laki? Sebagai seorang ibu, saya merasakan peran pengasuhan lebih terpusat pada diri saya, dibandingkan pada diri suami. Tentu saja suami juga memiliki peran pengasuhan, tapi beliau lebih banyak bertindak berdasarkan cerita-cerita yang saya sampaikan padanya, pandangan-pandangan saya tentang keseharian anak, dll-nya karena kesibukannya di luar rumah yang membuatnya tidak memiliki waktu yang lebih banyak daripada saya dalam kegiatan pengasuhan anak secara langsung.

Ya, anak pertama kami adalah anak perempuan, dan saya merasa sudah terbiasa menjadi ibu dari seorang anak perempuan. Entah kenapa, mungkin karena kami memiliki perhatian yang mirip, sebagai sesama perempuan. Kami sama-sama menyukai lagu, menata ruangan, membuat masakan, melihat bunga, dan lain-lain. Sisi feminitas ini membuat kami merasa saling cocok, selain banyak sisi netral lainnya yang mengikat kami, seperti membaca buku, menonton video, belajar membaca huruf hijaiyyah, menggambar, yang juga mengisi hari-hari kami.

Putri kami juga mendapatkan sisi maskulinnya dari sang Ayah. Setiap kali ada kesempatan bermain dengan ayahnya, putri kami akan memanfaatkannya dengan mengolah otot ayahnya. Permainan yang menyita tenaga itu mereka lakukan sambil tertawa keras-keras. Sisi maskulinitas pun putri kami dapatkan. Menurut saya, ini cukup seimbang, feminitas lebih dominan, lalu sisi
netral, dan terakhir adalah sisi maskulinitas.

Lalu, bagaimana dengan anak laki-laki kami? Memang ia masih berusia satu bulan, tapi untuk memulai sebuah rencana pengasuhan, ada baiknya dipikirkan dari awal.

Menjadi anak laki-laki sepertinya memang lebih berat dibandingkan menjadi anak perempuan. Atau, mungkin juga dengan kata lain, menjadi ibu dari anak laki-laki lebih berat dibandingkan menjadi ibu dari anak perempuan? Saya pilih pengandaian yang pertama dulu, baru masuk ke pengandaian yang kedua.

Seorang bayi akan merasa bagian dari ibunya karena ia mendapatkan segala pengalaman yang berharga pertama kalinya dari sang Ibu. Mendapatkan makanan dari ibu, cinta dan kasih sayang dari ibu, mainan dari ibu, dimandikan oleh ibu, dan semua kebutuhannya ketika bayi didapatkannya dari ibu. Ibu menjadi belahan jiwa si bayi dan ia menjadi begitu dekat dan ingin menyerupai ibunya. Bagi anak perempuan, perasaan sebagai bagian dari ibu ini bisa ia teruskan hingga dewasa. Tapi bagi anak laki-laki, ia akan dikejutkan oleh kenyataan, di sekitar usia 5 tahun, bahwa ia berbeda dengan ibunya. Ia akan mengalami proses supaya tidak menyerupai ibunya. Bagi anak laki-laki ini adalah proses yang sesungguhnya berat. Namun konsekuensinya bila ia tidak berpisah dari ibunya, ia akan dijuluki "anak mami" atau istilah sejenis. Kondisi kejiwaan ini sudah cukup banyak diteliti di dunia psikologi dan kita lihat juga fenomenanya di masyarakat.

Sekarang, bagaimana menjadi ibu dari anak laki-laki? Cinta dan kasih sayang ibu tentu saja tidak akan dikurangi pada anak laki-laki. Namun, ibu dari anak laki-laki mungkin harus memiliki kesadaran akan perannya dalam membentuk anaknya untuk menjadi seorang laki-laki, yang di dalam masyarakat akan dimintai untuk berperan berbeda dengan perempuan. Anak laki-laki diharapkan untuk menjadi kuat, tidak manja, penuh tanggung jawab, dan berbagai sikap maupun sifat maskulin lainnya. Hal itu yang mulai saya renungi dan pelajari saat ini. Saya juga meminta dukungan yang lebih kuat lagi dari suami, memberikan sisi maskulinitasnya lebih banyak lagi pada anak laki-lakinya, di samping juga suami akan mengajarkan bahwa laki-laki juga memiliki rasa kasih sayang, lemah lembut, dan sisi feminitas lainnya.

-Penulis adalah peneliti masalah Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga.-

sumber: dari sebuah milis..


mudah-mudahan bisa jadi ibu yang baik.. amiin




(Read 4 comments) - (Post a new comment)

EDISI CURHAT...maaf ya
[info]ardian
2004-06-19 12:21 am UTC (link)
Saya didik maskulin oleh bapak saya terlalu keras. Sampe akhirnya terjadi konflik ayah-anak dan sampe sekarang susah untuk cair. Meskipun kita sama-sama dewasa, kalau dipaksakan sepertinya aneh banget.
Bapak saya ingin kompensasi atas didikannya yang terlalu keras, sy sih jadi ngeliatnya aneh dan dipaksakan. kenapa gak berlaku biasa aja dan tidak berlebihan.
Terus sifatnya sekarang kayak anak-anak banget, pengen diperhatiin, pengen ikutan wisuda (padahal sy gak berencana untuk ikut wisuda), suka mendramatisir macem-macem *sigh*.
Makanya setiap dia mau berkunjung, jadi bete banget..Apalagi kalo pulang ke palembang, bawaannya bete, gak betah pengen cepet-cepet pergi lagi.
Pernah terpikir, kalo didikan over maskulinnya itu karena ngerasa terbebani oleh saya. tapi sy pikir saya gak pernah minta apa-apa ke dia. Satu-satunya permintaan saya yang pernah terucap adalah ketika saya minta dibelikan jam tangan saat kelas 4 SD. Setelah itu saya gak minta apa-apa sampe sekarang. Bahkan sekarang (setelah lulus S1) kalau beliau mau ngasih, gak pernah saya terima.
anyway, bukannya mengkritik didikan maskulin, tapi mungkin didikan "bertanggung-jawab" lebih utama. Karena sebagai laki-laki, hal terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa tangung jawab.
Tapi produk didikan maskulin lumayan juga, sy pernah pengen "senggol" leher temen kost dengan katana waktu kuliah dulu *hihihi kalo inget jadi malu, emosian kayak gitu"

***
Kalo gak salah ada riwayat yang mengatakan ketika nabi ditanya : "Apa kalau kita berkata buruk tentang seseorang pahala kita akan pindah ke orang itu?" . Saat itu rasul membenarkan dengan mengatakan "Ya.".

kalau dengan cerita diatas, beberapa pahala saya pindah ke ayah saya, insya Allah saya ikhlas..kapan lagi bisa berbakti kayak gini :)

(Reply to this)


(Read 4 comments) - (Post a new comment)

Create an Account
Forgot your login or password?
Login w/ OpenID
English • Español • Deutsch • Русский…