c a h a y a ([info]nurafiati) wrote,
@ 2004-06-19 17:06:00
Previous Entry  Add to memories!  Tell a Friend  Next Entry
Current mood: calm

Peran Orang Tua
Sebuah diskusi menyoal tentang peran orang tua di sebuah milis.
(kepada teman-teman yang emailnya saya ambil, maaf ga minta ijin dulu..)

email pembuka diskusi:
Tidak perlu menjadi manusia yang sempurna untuk menjadi orang tua yang baik. Hanya perlu kesadaran yang tinggi untuk salah satunya jujur pada diri sendiri (dan anak tentunya). Seperti juga bagian kehidupan lain, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran dan perbaikan diri terus menerus.
Sebetulnya ada yang masih mengganjal dalam pikiran saya tentang bagian menjadi orang tua ini. Tentang kesalahan (atau tepatnya kekurangan ya?) yang kita lakukan sebagai orang tua. Berniat diri ingin menjadikan anak mandiri dan punya kepercayaan diri, tapi sering kali - dengan dalih kasih sayang dan ketidaktegaan - memanjakan dan membantu anak yang ujung-ujungnya menjadikan mereka manja dan kurang punya kepercayaan diri. Kalau anak menjadi manja dan minder seperti itu, wajarkah menimpakan kesalahan kepada orang tua? Hmm... setiap orang tua kan punya kekurangan ya.. namanya juga manusia. Saya berpikir kalau mendidik anak itu, investasi yang hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup.


tanggapan pertama:
Mendidik anak balita atau bahkan sejak batita persis ada diantara 2 kondisi yang disebut tadi: memberikan kasih sayang dan membangun
kemandirian. Just be steady in between. Do it in balance (allaa tathghou fi al-miizaan: supaya kamu jangan melampaui batas dari neraca -kesetimbangan- itu).


tanggapan kedua:
waktu masih di kampus saya ma kawan2 seringjuga berdiskusi tentang orang tua dan tarbiyah (pendidikan) kami seringkali merenungkan, bahwa kalau saja kami `mengenal islam`dan mendapat 'pendidikan islam' lebih dini mungkin tak sesulit ini kami menjadi muslim yang kaaffah.

tapi, sebagai seorang muslim yang harus senantiasa bersyukur dan bersabar, maka tak boleh sedikitpun 'menyalahkan' orangtua. Bahwa meskipun orang tua kami 'apa adanya' (beberapa orang tua kawan muslimah bahkan tidak pernah sholat, dll) tapi setidaknya, barangkali, ketulusan mereka, doa mereka kepada kami adalah jalan yang membuat kami bisa mengenal islam secara lebih saat dewasa. terlambat lebih baik daripada tidak.

dan saat sekarang dengan bekalan pengetahuan2, pemahaman yang sedikit lebih dalam beberapa hal, barangkali modal kita sedikit lebih banyak saat/akan menjadi ortu. tapi tantangannya juga semakin kompleks. seribu satu metoda tetap memiliki kemungkinan error saat
melaksanakannya. yang sudah dibuat sebaik/sebenar mungkin saja kadang2 hasilnya tak sesuai harapan. saya pernah membaca tulisan ttg `lubang tikus di rumah kita' yang bercerita ttg 'penyimpangan anak' yang dididik keluarga yang baik

karena itu saya pikir untuk meminimalkan 'salah asuhan', keikhlasan dan tawakal kepada Allah dalam mendidik anak adalah salah satu kunci
utama, selain upaya yang tak kenal lelah untuk terus belajar. wallahu alam


tanggapan ketiga:
Untuk setiap pisang goreng,bakwan khas ibu, jenang goreng dan penganan2 lain yang ibu siapkan di akhir pekan masa kami SD-SMP
dulu, berulang-ulang kali saya ucapkan syukur. Itu adalah momen2, dimana Ibu, Bapak, menemani kami tiga bersaudara berdiskusi dengan guru ngaji sebelum sesi khusus mengaji kami. Kami bicara politik, kami bicara agama,kami bicara isi koran. Walaupun saya katakan kami, sebenernya saya dan adik hanya mengangguk, ber`oo`, dan mengambil satu persatu isi piring... tapi kami belajar dewasa.
Ibu tak pernah mengajar kami mengaji, tapi ibu yakin, sejak dini anaknya perlu dikasih ngaji. Ia telah menggiring kami ke arah kecenderungan2 yang sangat baik. Saya masih ingat, kejadian ketika turun dari angkot bersama teman dan adik sesudah `ngerumpi-in` si anu lagi jadian sama si anu dan seterusnya. Adik saya yang masih kira2 kelas 5 SD, sambil menyusuli saya seturunnya dari angkot dengan polosnya berkata `Mbak Uti, Mbak Uti, kan,kan...kata mba Qib kita ga boleh pacaran,ya,mbak,ya...?` Fitrah, fitrah... kami telah diajarkan kembali ke fitrah semenjak
kecil. Dan gejolak2 puber adik saya di masa SMA Aliyah Modern-nya yang gitaris dan vokalis, saya yakin akan bisa dia lalui. Aman, berhasil.
Dan paradigma ibu saya yang sempat berkata `kok, sekarang ga ngetrend gitu,sih, ga mau pacaran....!` bisa mulai dihadapkan dengan
trend baru, `Bu, ga ngaji, ga trendi,Bu!`. Sekarang pun menjelang kepulangan saya pertama kali ke Indonesia, insya Allah kami telah
komit satu hal, ibu mengaji, dan saya mengikuti 1 permintaan ibu.
Syukur, syukur... saya pikir, saya lah satu2 nya yang beruntung memiliki lingkungan tumbuh yang paling baik. Walau saya tak pernah plong mengatakan, tak ada yang salah dalam bapak dan ibu mendidik kami. Tapi, memang ternyata Allah menganugerahkan kita dengan pendidikan,
dan itu adalah pendidikan yang terbaik. Kita, semuanya...


Mungkin diskusinya kurang bisa difahami, karena yang saya lakukan hanya mengkopi paste dari email aslinya. Setidaknya -bagi saya- ada pencerahan baru di sana.




(3 comments) - (Post a new comment)


[info]msudiarsih
2004-06-19 11:57 pm UTC (link)
aku rada ngerti kok va, walaupun kontrol GT (masih inget yang dikampus thea?), hehe...
di kantor juga barusan ngomonign pendidikan anak. intinya, sekarang emang lebih sulit mendidik anak. pengalaman kita sebagai anak kurang memadai sebagai bekalan untuk mendidik, di era yang -masya Allah-, sulit kali ya... semua hal negatif & positif terekspos sedemikian rupa dengan bebas. do'a (mendekat diri kepada yang memiliki hati) dan terus menambah wawasan ortu, sebagai bagian ikhtiar yang niscaya. (deuu, aku lagi so bijak nih va...)

(Reply to this) (Thread)

setuju
[info]nurafiati
2004-06-20 03:11 am UTC (link)
iya, setuju.
berharap indonesia akan jadi jauh lebih baik saat anak2ku tumbuh (artinya mulai dari sekarang ya? *sigh*).

(Reply to this) (Parent)(Thread)

Re: setuju
[info]msudiarsih
2004-06-20 07:06 pm UTC (link)
amin... at least ada harapan lah untuk itu.
Ust. anis matta pernah memberi hadits tentang ungkapan pentingnya harapan dalam menjalani hidup, yaitu seperti seorang ibu yang dengan "ridho" menyusui anak yang dilahirkannya, tanpa pernah berpikiran anaknya akan jadi apa (yang negatif). sebuah gambaran optimisme menghadapai masa depan.
btw, today will become my last day (working) in ahadnet euy...

(Reply to this) (Parent)


(3 comments) - (Post a new comment)

Create an Account
Forgot your login or password?
Login w/ OpenID
English • Español • Deutsch • Русский…