<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- If you are running a bot please visit this policy page outlining rules you must respect. http://www.livejournal.com/bots/ -->
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:lj="http://www.livejournal.com">
  <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati</id>
  <title>-- Menikmati Peran Ibu --</title>
  <subtitle>karena hidup adalah proses perbaikan terus menerus</subtitle>
  <author>
    <name>c a h a y a</name>
  </author>
  <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/"/>
  <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom"/>
  <updated>2006-04-13T15:13:16Z</updated>
  <lj:journal userid="1136357" username="nurafiati" type="personal"/>
  <link rel="service.feed" type="application/x.atom+xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom" title="-- Menikmati Peran Ibu --"/>
  <link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/"/>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:34486</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/34486.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=34486"/>
    <title>[Jelang Dua tahun Hafiz]   Hafiz, Piring dan Buku  </title>
    <published>2006-04-13T15:13:16Z</published>
    <updated>2006-04-13T15:13:16Z</updated>
    <content type="html">Suatu pagi, ibu sedang mencuci piring di dapur. Hafiz datang, mendekati rak piring. Piring keramik bergambar kelinci diambil. "Ayah… ayah…," kata Hafiz. Ibu menjawab, "iya, itu piring ayah." Piring itu memang biasa dipakai ayah. &lt;br /&gt;Piring kelinci diletakkan kembali. Kali ini tangan Hafiz menunjuk piring beling di deretan belakang. "Ibu…ibu…," kata Hafiz kemudian. "Iya, itu piring Ibu," jawab ibu.&lt;br /&gt;Tangan Hafiz kemudian meraih piring kecil berbahan Tupperware. "Hapis," katanya singkat. Ibu tersenyum. "Oo.. yang itu punya Hafiz ya.." Piring itu biasa dipakai Hafiz untuk bermain-main.&lt;br /&gt;Hafiz sudah bisa menunjukkan barang-barang yang biasa dipakai orang-orang yang biasa ia temui. Bukan hanya piring, tapi juga gelas, baju, dan sepatu.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Pagi hari, Hafiz ikut ibu berbelanja ke tukang sayur. Saat tiba, perhatiannya segera tertuju ke ikatan plastik berisi kerupuk di gerobak sayur. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil tangannya memegang plastik kerupuk.&lt;br /&gt;"Hafiz mau kerupuk?" Tanya Ibu. Hafiz mengangguk. Plastik kerupuk itupun berpindah tangan.&lt;br /&gt;Lain waktu, Hafiz bermain di halaman depan rumah. Seekor kupu-kupu terbang melintas, dan hinggap di salah satu bunga. "Buku.. buku…" kata Hafiz sambil menatap kupu-kupu. Ibu menyahut, "Iya, itu kupu-kupu."&lt;br /&gt;Di dalam rumah, jika ibu sedang menulis di buku, Hafiz mendekat. "Buku…buku…" kata Hafiz sambil berusaha meraih buku di meja. Ibu memberikan buku tulis beserta pulpennya. Hafiz kemudian meletakkannya di lantai dan mulai mencorat-coret.&lt;br /&gt;Bukan hanya kata buku yang punya arti ganda kalau diucapkan Hafiz. Kata "semu" bisa berarti semut atau jemur. Tergantung pada kondisi saat itu, dan apa yang Hafiz tunjuk atau lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cibeureum, 10 April 2006</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:34059</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/34059.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=34059"/>
    <title>[Jelang 2 Tahun Hafiz] Belajar Mandiri</title>
    <published>2006-04-12T20:17:57Z</published>
    <updated>2006-04-12T20:17:57Z</updated>
    <content type="html">Anakku sedang ingin melakukan banyak hal sendiri. Salah satunya, membuat susu dalam botol.Saat ingin minum susu, saya hanya perlu menyiapkan air dalam botol, dan si kecil yang menjelang dua tahun itu akan melakukan pekerjaan selanjutnya. Memasukkan sendok demi sendok susu bubuk ke dalamnya, kemudian memasang tutup dan memutarnya. Masih berantakan tentu. Butiran-butiran susu pun bertebaran di alas dan lantai. &lt;br /&gt;Saya menganggapnya sebagai proses belajar. Tidak apa-apa lantai dapur kotor dengan susu bubuk. Hanya sedikit dan mampu dibersihkan dengan disapu dan dipel. Mudah-mudahan bagi si kecil, proses ini mampu membuatnya belajar untuk lebih mandiri. &lt;br /&gt;Setahun sebelumnya, si kecil sedang belajar makan sendiri. Mencoba menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulut mungilnya. Alas tempatnya makan, juga baju yang ia kenakan, biasanya akan kotor dengan tumpahan makanan. Tapi lihatlah, kini ia makan dengan lebih rapi. Belum bisa sepenuhnya tertib. Beberapa butir nasi masih berjatuhan ke lantai. Tapi sudah jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya.&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti seminar bertema pendidikan. Pembicaranya adalah seorang psikolog dengan 11 anak. Ia mengatakan bahwa anak yang dalam masa pertumbuhannya sering menerima larangan dari orang tua akan menjadi seorang yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Misalnya saja, anak kecil yang mencoba membantu membereskan piring di meja makan. Dengan alasan takut pecah, orang tua melarang dia untuk membantu. Di saat lain, ketika dia mencoba melakukan pekerjaan yang lain, orang tua melarang dengan alasan ia belum mampu. Terlalu sering dilarang seperti itu, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal. Keyakinan ini bisa jadi akan dia bawa hingga ia dewasa.&lt;br /&gt;Untuk anak saya yang saat ini berumur 2 tahun, masih banyak proses dan tahapan yang harus dilewati untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri. Perlu bantuan dari orang-orang di sekelilingnya untuk menanamkan kepercayaan diri atas kemampuan yang ia miliki untuk melakukan banyak hal. Mudah-mudahan proses dan tahapan ini bisa dijalani dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 20 Maret 2006</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:33987</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/33987.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=33987"/>
    <title>[Jelang 2 tahun Hafiz]   Peniru Ulung  </title>
    <published>2006-04-12T19:49:50Z</published>
    <updated>2006-04-12T19:49:50Z</updated>
    <content type="html">Anak-anak adalah peniru ulung. Hafiz juga begitu. Sebagai ibu, saya mencoba mencatat apa saja yang dia tiru dari lingkungannya. Sebetulnya ada banyak hal yang dia tiru. Yang tercatat di sini adalah perilaku yang berulang-ulang ditunjukkan hafiz.&lt;br /&gt;Satu hal yang paling sering dilakukan Hafiz adalah meniru gerakan sholat. Sepertinya dia meniru ayahnya melakukan sholat. Aaba (maksudnya Allahu akbar) sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Lalu ia meletakkan dua tangan di dada. Kemudian sujud. Ya, ia memang sering melewatkan ruku. Mungkin sikap ruku termasuk sulit ia tiru. Ia kemudian duduk, sambil jari tangannya meniru saat tasyahud. Jika diucapkan assalamualaikum, kepalanya akan menoleh ke kiri dan kanan. Saat proses sholat berlangsung, mulutnya akan bergerak-gerak seperti bergumam.&lt;br /&gt;Hal lain yang ia tiru dari ibunya adalah  mencuci pakaian dalam ember. Hampir setiap pagi, ia melihat ibunya mencuci celana kotor dan menguceknya. Itu pula yang ia lakukan ketika melihat celana kotor dalam ember. Mengucek-kucek layaknya sedang mencuci.&lt;br /&gt;Kali lain ia akan mengambil gagang pel dan mulai menempelkan lap pelnya ke lantai. Atau mengambil sapu dan mulai menyapu meski lantai sebenarnya tidak kotor. &lt;br /&gt;Hanya hal-hal yang baikkah yang ia tiru? Tentu tidak. Tapi bukan saatnya menulis hal-hal kurang baik yang ia tiru dari orang tuanya.&lt;br /&gt;Satu pertanyaan terbersit dalam hati. Sudahkah kami -orang tuanya- menjadi teladan yang memberi contoh baik bagi putra kecil kami? Usaha untuk menjadi teladan yang baik tentu sudah dilakukan. Tapi tidak ada orang yang sempurna. Ada saja celah dimana perilaku yang kami tunjukkan sebenarnya tidak layak untuk ditiru. Mudah-mudahan kami bisa terus berusaha menjadi dan memberikan teladan yang baik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, 20 Maret 2006</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:33770</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/33770.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=33770"/>
    <title>You are never alone</title>
    <published>2004-07-07T06:25:38Z</published>
    <updated>2004-07-07T07:42:37Z</updated>
    <lj:music>you are never alone - zain bikha</lj:music>
    <content type="html">&lt;a href="http://www.b4death.com/fla/never.swf" title="you are never alone" target="_blank"&gt;something&lt;/a&gt; to remind myself..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Sometimes, when the world’s not on your side&lt;br /&gt;You don't know where to run to&lt;br /&gt;You don't know where to hide &lt;br /&gt;You gaze, at the stars in the sky&lt;br /&gt;At the mountains so high&lt;br /&gt;Through the tears in you eyes&lt;br /&gt;Looking for a reason, to replace what is gone&lt;br /&gt;Just remember, remember, that you are never alone &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are never alone&lt;br /&gt;Just reach into your heart and Allah is always there&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are never alone&lt;br /&gt;Through sorrow and through grief&lt;br /&gt;Through happiness and peace&lt;br /&gt;You will never be alone&lt;br /&gt;So now, as you long for your past&lt;br /&gt;Prepare for your future&lt;br /&gt;But knowing nothing’s going to last&lt;br /&gt;You see, this life is but a road&lt;br /&gt;A straight and narrow path&lt;br /&gt;To our final abode&lt;br /&gt;So travel well o Muslim and paradise will be your home&lt;br /&gt;And always remember, you are never alone &lt;br /&gt;&lt;/i&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:33416</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/33416.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=33416"/>
    <title>Dua Bulan Usia Hafiz</title>
    <published>2004-06-30T22:39:34Z</published>
    <updated>2004-06-30T22:41:48Z</updated>
    <lj:music>Aku Anak Sholeh - Snada</lj:music>
    <content type="html">Hari ini, tepat dua bulan usia Hafiz&lt;br /&gt;Hafiz sudah bisa apa?&lt;br /&gt;beberapa teman sering menanyakan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hafiz sudah bertambah berat sekarang&lt;br /&gt;terakhir ditimbang, beratnya 6 kilogram&lt;br /&gt;Sudah makin pintar ia&lt;br /&gt;Jam tidurnya mulai teratur, meski kadang masih merepotkan juga&lt;br /&gt;Refleks moronya masih ada, meski sudah jauh berkurang&lt;br /&gt;refleks babinskinya pun begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainan favoritnya,&lt;br /&gt;tasbih yang digoyangkan di atas kepalanya&lt;br /&gt;Diajak bicara orang-orang di sekelilingnya pun ia suka&lt;br /&gt;Kalau sudah diajak ngobrol begitu,&lt;br /&gt;senyum manisnya mengembang, mulut mungilnya ikut bergerak,&lt;br /&gt;matanya ikut 'berbicara'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya sudah mulai berusaha meraih benda di dekatnya&lt;br /&gt;Genggamannya kuat meski sesaat kemudian ia lepaskan lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai berusaha menelungkupkan badannya&lt;br /&gt;Belum cukup usia, tentu saja usahanya masih belum berhasil juga&lt;br /&gt;Dibantu, ia baru bisa menelungkupkan badan&lt;br /&gt;perlahan-lahan kepalanya bergerak&lt;br /&gt;lalu......&lt;br /&gt;Hup! kepalanya mengangkat sebentar&lt;br /&gt;hanya beberapa detik&lt;br /&gt;tapi sudah membuat gembira orang-orang yang menyayanginya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan&lt;br /&gt;Ia jadi anak yang sholeh dan bahagia, dunia akhiratnya&lt;br /&gt;Mudah-mudahan juga&lt;br /&gt;orang tuanya dikaruniai kemampuan untuk mendidiknya dengan benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."&lt;/i&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:33276</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/33276.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=33276"/>
    <title>Oleh-oleh</title>
    <published>2004-06-20T10:23:12Z</published>
    <updated>2004-06-20T10:24:53Z</updated>
    <lj:music>would you be happier - the corrs</lj:music>
    <content type="html">Sebentar lagi insya Allah kembali ke kampung halaman. Salah satu yang jadi bahan pikiran (meski bukan jadi prioritas) adalah oleh-oleh. Apa yang akan dibawa nanti? Seorang teman pernah menulis, kalau oleh-olehnya adalah sesuatu  "yang lucu, yang gak berat, yang khas jepang, yang gak mahal." Berfikir, kalau kriterianya seperti itu, apa ya yang nanti dibawa? Tapi beliau juga menulis, jangan sampe oleh-oleh itu jadi alat untuk pamer. Hmm.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di tulisan teman, mengingat teman-teman di jepang ini, sepertinya akan ada oleh-oleh yang mungkin akan mereka bawa nanti: kemandirian, kesederhanaan, kekuatan hati, serta ketawakkalan yang lebih. Hhh... sesuatu yang membuat berkaca pada diri. Akankah saya membawa hal-hal seperti itu nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fukuoka panas sekali 2 hari terakhir ini. Termometer di atas meja menunjukkan angka 34 derajat celcius saat menulis entri ini. Dari berita, katanya akan ada taifu yang lewat di Kyushuu.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:32811</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/32811.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=32811"/>
    <title>Peran Orang Tua</title>
    <published>2004-06-19T08:19:34Z</published>
    <updated>2004-06-19T08:19:34Z</updated>
    <content type="html">Sebuah diskusi menyoal tentang peran orang tua di sebuah milis.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(kepada teman-teman yang emailnya saya ambil, maaf ga minta ijin dulu..)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;email pembuka diskusi:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu menjadi manusia yang sempurna untuk menjadi orang tua yang baik. Hanya perlu kesadaran yang tinggi untuk salah satunya jujur pada diri sendiri (dan anak tentunya). Seperti juga bagian kehidupan lain, menjadi orang tua adalah proses pembelajaran dan perbaikan diri terus menerus. &lt;br /&gt;Sebetulnya ada yang masih mengganjal dalam pikiran saya tentang bagian menjadi orang tua ini. Tentang kesalahan (atau tepatnya kekurangan ya?) yang kita lakukan sebagai orang tua. Berniat diri ingin menjadikan anak mandiri dan punya kepercayaan diri, tapi sering kali - dengan dalih kasih sayang dan ketidaktegaan - memanjakan dan membantu anak yang ujung-ujungnya menjadikan mereka manja dan kurang punya kepercayaan diri. Kalau anak menjadi manja dan minder seperti itu, wajarkah menimpakan kesalahan kepada orang tua? Hmm... setiap orang tua kan punya kekurangan ya.. namanya juga manusia. Saya berpikir kalau mendidik anak itu, investasi yang hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;tanggapan pertama:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak balita atau bahkan sejak batita persis ada diantara 2 kondisi yang disebut tadi: memberikan kasih sayang dan membangun&lt;br /&gt;kemandirian. Just be steady in between. Do it in balance (allaa tathghou fi al-miizaan: supaya kamu jangan melampaui batas dari neraca -kesetimbangan- itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;tanggapan kedua:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;waktu masih di kampus saya ma kawan2 seringjuga berdiskusi tentang orang tua dan tarbiyah (pendidikan) kami seringkali merenungkan, bahwa kalau saja kami `mengenal islam`dan mendapat 'pendidikan islam' lebih dini mungkin tak sesulit ini kami menjadi muslim yang kaaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, sebagai seorang muslim yang harus senantiasa bersyukur dan bersabar, maka tak boleh sedikitpun 'menyalahkan' orangtua. Bahwa meskipun orang tua kami 'apa adanya' (beberapa orang tua kawan muslimah bahkan tidak pernah sholat, dll) tapi setidaknya, barangkali, ketulusan mereka, doa mereka kepada kami adalah jalan yang membuat kami bisa mengenal islam secara lebih saat dewasa. terlambat lebih baik daripada tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan saat sekarang dengan bekalan pengetahuan2, pemahaman yang sedikit lebih dalam beberapa hal, barangkali modal kita sedikit lebih banyak saat/akan menjadi ortu. tapi tantangannya juga semakin kompleks. seribu satu metoda tetap memiliki kemungkinan error saat&lt;br /&gt;melaksanakannya. yang sudah dibuat sebaik/sebenar mungkin saja kadang2 hasilnya tak sesuai harapan. saya pernah membaca tulisan ttg `lubang tikus di rumah kita' yang bercerita ttg 'penyimpangan anak' yang dididik keluarga yang baik  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena itu saya pikir untuk meminimalkan 'salah asuhan', keikhlasan dan tawakal kepada Allah dalam mendidik anak adalah salah satu kunci&lt;br /&gt;utama, selain upaya yang tak kenal lelah untuk terus belajar. wallahu alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;tanggapan ketiga:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Untuk setiap pisang goreng,bakwan khas ibu, jenang goreng dan penganan2 lain yang ibu siapkan di akhir pekan masa kami SD-SMP&lt;br /&gt;dulu, berulang-ulang kali saya ucapkan syukur. Itu adalah momen2, dimana Ibu, Bapak, menemani kami tiga bersaudara berdiskusi dengan guru ngaji sebelum sesi khusus mengaji kami. Kami bicara politik, kami bicara agama,kami bicara isi koran. Walaupun saya katakan kami, sebenernya saya dan adik hanya mengangguk, ber`oo`, dan mengambil satu persatu isi piring... tapi kami belajar dewasa.&lt;br /&gt;Ibu tak pernah mengajar kami mengaji, tapi ibu yakin, sejak dini anaknya perlu dikasih ngaji. Ia telah menggiring kami ke arah kecenderungan2 yang sangat baik. Saya masih ingat, kejadian ketika turun dari angkot bersama teman dan adik sesudah `ngerumpi-in` si anu lagi jadian sama si anu dan seterusnya. Adik saya yang masih kira2 kelas 5 SD, sambil menyusuli saya seturunnya dari angkot dengan polosnya berkata `Mbak Uti, Mbak Uti, kan,kan...kata mba Qib kita ga boleh pacaran,ya,mbak,ya...?` Fitrah, fitrah... kami telah diajarkan kembali ke fitrah semenjak&lt;br /&gt;kecil. Dan gejolak2 puber adik saya di masa SMA Aliyah Modern-nya yang gitaris dan vokalis, saya yakin akan bisa dia lalui. Aman, berhasil.&lt;br /&gt;Dan paradigma ibu saya yang sempat berkata `kok, sekarang ga ngetrend gitu,sih, ga mau pacaran....!` bisa mulai dihadapkan dengan&lt;br /&gt;trend baru, `Bu, ga ngaji, ga trendi,Bu!`. Sekarang pun menjelang kepulangan saya pertama kali ke Indonesia, insya Allah kami telah&lt;br /&gt;komit satu hal, ibu mengaji, dan saya mengikuti 1 permintaan ibu. &lt;br /&gt;Syukur, syukur... saya pikir, saya lah satu2 nya yang beruntung memiliki lingkungan tumbuh yang paling baik. Walau saya tak pernah plong mengatakan, tak ada yang salah dalam bapak dan ibu mendidik kami. Tapi, memang ternyata Allah menganugerahkan kita dengan pendidikan,&lt;br /&gt;dan itu adalah pendidikan yang terbaik. Kita, semuanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin diskusinya kurang bisa difahami, karena yang saya lakukan hanya mengkopi paste dari email aslinya. Setidaknya -bagi saya- ada pencerahan baru di sana.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:32706</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/32706.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=32706"/>
    <title>Inisiatif dan sepeda (2 judul yang gak nyambung)</title>
    <published>2004-06-18T08:03:42Z</published>
    <updated>2004-06-18T08:23:14Z</updated>
    <content type="html">2 judul yang gak nyambung, skip aja karena cuma 'words of nothing' (istilah siape tuuu..?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;Mr. Danny, atasan waktu di &lt;a href="http://www.findora.net/" title="findora internusa" target="_blank"&gt;findora&lt;/a&gt; dulu, pernah berujar kalau saya kurang inisiatif. Sebenarnya, tak perlu diungkapkan pun kesadaran soal kurangnya inisiatif itu sudah ada. Dan Mr. Danny, yang hanya 3 bulan berinteraksi, tak perlu mengungkapkan pun saya sudah paham itu. Mungkin kurang inisiatif bisa jadi kelemahan dan kelebihan. Tapi saat ini, rasa-rasanya itu jadi satu kelemahan yang membuat saya kesal pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya sudah lama sekali tidak naik sepeda. Padahal rasanya baru 4 bulan saja benar-benar berhenti bersepeda. Hari ini kembali naik sepeda berbelanja. Tempat yang dituju dekat, sekitar 5 menit dengan sepeda. Canggung, tapi tak berapa lama sudah biasa lagi. Ingat dulu, masa-masa bersepeda dari matsushima ke kaikan. 20 menit perjalanan. Lewat tataragawa, lewat perlintasan kereta api yang kata ibu-ibu 'mengerikan'. &lt;br /&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:32107</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/32107.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=32107"/>
    <title>Ibu dan Anak Laki-laki</title>
    <published>2004-06-17T12:33:31Z</published>
    <updated>2004-06-18T08:22:10Z</updated>
    <content type="html">Membaca artikel ini, jadi merenung soal peran ibu dari seorang anak laki-laki. Satu hal yang mungkin dulu tidak terpikirkan. Hmm... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan Anak Laki-laki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Femina Sagita Borualogo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu bulan ini, ada satu hal yang memenuhi pikiran saya. Bagaimana cara mendidik anak laki-laki? Sebagai seorang ibu, saya merasakan peran pengasuhan lebih terpusat pada diri saya, dibandingkan pada diri suami. Tentu saja suami juga memiliki peran pengasuhan, tapi beliau lebih banyak bertindak berdasarkan cerita-cerita yang saya sampaikan padanya, pandangan-pandangan saya tentang keseharian anak, dll-nya karena kesibukannya di luar rumah yang membuatnya tidak memiliki waktu yang lebih banyak daripada saya dalam kegiatan pengasuhan anak secara langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, anak pertama kami adalah anak perempuan, dan saya merasa sudah terbiasa menjadi ibu dari seorang anak perempuan. Entah kenapa, mungkin karena kami memiliki perhatian yang mirip, sebagai sesama perempuan. Kami sama-sama menyukai lagu, menata ruangan, membuat masakan, melihat bunga, dan lain-lain. Sisi feminitas ini membuat kami merasa saling cocok, selain banyak sisi netral lainnya yang mengikat kami, seperti membaca buku, menonton video, belajar membaca huruf hijaiyyah, menggambar, yang juga mengisi hari-hari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri kami juga mendapatkan sisi maskulinnya dari sang Ayah. Setiap kali ada kesempatan bermain dengan ayahnya, putri kami akan memanfaatkannya dengan mengolah otot ayahnya. Permainan yang menyita tenaga itu mereka lakukan sambil tertawa keras-keras. Sisi maskulinitas pun putri kami dapatkan. Menurut saya, ini cukup seimbang, feminitas lebih dominan, lalu sisi &lt;br /&gt;netral, dan terakhir adalah sisi maskulinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan anak laki-laki kami? Memang ia masih berusia satu bulan, tapi untuk memulai sebuah rencana pengasuhan, ada baiknya dipikirkan dari awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi anak laki-laki sepertinya memang lebih berat dibandingkan menjadi anak perempuan. Atau, mungkin juga dengan kata lain, menjadi ibu dari anak laki-laki lebih berat dibandingkan menjadi ibu dari anak perempuan? Saya pilih pengandaian yang pertama dulu, baru masuk ke pengandaian yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bayi akan merasa bagian dari ibunya karena ia mendapatkan segala pengalaman yang berharga pertama kalinya dari sang Ibu. Mendapatkan makanan dari ibu, cinta dan kasih sayang dari ibu, mainan dari ibu, dimandikan oleh ibu, dan semua kebutuhannya ketika bayi didapatkannya dari ibu. Ibu menjadi belahan jiwa si bayi dan ia menjadi begitu dekat dan ingin menyerupai ibunya. Bagi anak perempuan, perasaan sebagai bagian dari ibu ini bisa ia teruskan hingga dewasa. Tapi bagi anak laki-laki, ia akan dikejutkan oleh kenyataan, di sekitar usia 5 tahun, bahwa ia berbeda dengan ibunya. Ia akan mengalami proses supaya tidak menyerupai ibunya. Bagi anak laki-laki ini adalah proses yang sesungguhnya berat. Namun konsekuensinya bila ia tidak berpisah dari ibunya, ia akan dijuluki "anak mami" atau istilah sejenis. Kondisi kejiwaan ini sudah cukup banyak diteliti di dunia psikologi dan kita lihat juga fenomenanya di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana menjadi ibu dari anak laki-laki? Cinta dan kasih sayang ibu tentu saja tidak akan dikurangi pada anak laki-laki. Namun, ibu dari anak laki-laki mungkin harus memiliki kesadaran akan perannya dalam membentuk anaknya untuk menjadi seorang laki-laki, yang di dalam masyarakat akan dimintai untuk berperan berbeda dengan perempuan. Anak laki-laki diharapkan untuk menjadi kuat, tidak manja, penuh tanggung jawab, dan berbagai sikap maupun sifat maskulin lainnya. Hal itu yang mulai saya renungi dan pelajari saat ini. Saya juga meminta dukungan yang lebih kuat lagi dari suami, memberikan sisi maskulinitasnya lebih banyak lagi pada anak laki-lakinya, di samping juga suami akan mengajarkan bahwa laki-laki juga memiliki rasa kasih sayang, lemah lembut, dan sisi feminitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Penulis adalah peneliti masalah Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sumber: dari sebuah milis..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mudah-mudahan bisa jadi ibu yang baik.. amiin</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:31948</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/31948.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=31948"/>
    <title>Anakmu Bukan Milikmu</title>
    <published>2004-06-14T13:38:02Z</published>
    <updated>2004-06-14T13:44:26Z</updated>
    <content type="html">Anakmu bukan milikmu&lt;br /&gt;Mereka putra putri yang rindu pada diri sendiri&lt;br /&gt;Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,&lt;br /&gt;Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.&lt;br /&gt;Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan Bentuk pikiranmu,&lt;br /&gt;Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.&lt;br /&gt;Patut kau berikan rumah untuk raganya,&lt;br /&gt;Tapi tidak untuk jiwanya,&lt;br /&gt;Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,&lt;br /&gt;yang tiada dapat boleh kau kunjungi sekalipun dalam impian.&lt;br /&gt;Kau boleh berusaha menyerupai mereka,&lt;br /&gt;Namun jangan membuat mereka mnyerupaimu&lt;br /&gt;Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,&lt;br /&gt;Pun tidak tenggelam dimasa lampau.&lt;br /&gt;Kaulah busur, dan anak-anakmulah&lt;br /&gt;Anak panah yang meluncur.&lt;br /&gt;Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.&lt;br /&gt;Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,&lt;br /&gt;Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.&lt;br /&gt;Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,&lt;br /&gt;Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat&lt;br /&gt;Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.&lt;br /&gt;(Khalil Gibran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu zaman yang bukan zamanmu. Mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan zamanmu"&lt;br /&gt;(Ali bin Abi Thalib)</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:31529</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/31529.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=31529"/>
    <title>A Life in Your Hands</title>
    <published>2004-06-14T13:32:33Z</published>
    <updated>2004-06-14T13:33:21Z</updated>
    <lj:music>Ode Anak - Raihan</lj:music>
    <content type="html">If a child lives with criticism, he learns to condemn;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with hostility, he learns to fight;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with ridicule, he learns to be shy;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with shame, he learns to feel guilty;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with tolerance, he learns to be patient;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with encouragement, he learns confidence;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with praise, he learns to appreciate;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with fairness, he learns justice;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with security, he learns to have faith;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with approval, he learns to like himself;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Dorothy Law Holte-</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:31249</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/31249.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=31249"/>
    <title>Asmaul Husna</title>
    <published>2004-05-16T11:30:11Z</published>
    <updated>2004-05-16T11:30:11Z</updated>
    <lj:music>asmaul husna - hijjaz</lj:music>
    <content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.studiomiksa.com/sufi/" title="asmaul husna" target="_blank"&gt;asmaul husna&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:31083</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/31083.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=31083"/>
    <title>Parents</title>
    <published>2004-04-30T10:55:06Z</published>
    <updated>2004-04-30T10:55:06Z</updated>
    <lj:music>Ode Anak- Raihan</lj:music>
    <content type="html">"We have enjoined on man kindness to his parents: In pain did his mother bear him, and in pain did she give him birth. The carrying of the (child) to his weaning is (a period of) thirty months. At length, when he reaches the age of full strength and attains forty years, he says, "O my Lord! Grant me that I may be grateful for Thy favour which Thou has bestowed upon me, and upon both my parents, and that I may work righteousness such as Thou mayest approve; and be gracious to me in my issue. Truly have I turned to Thee and truly do I bow (to Thee) in Islam."(46:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"O my Lord! Grant me a righteous (son)!"&lt;/i&gt; (37:100)</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:30822</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/30822.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=30822"/>
    <title>another pictures</title>
    <published>2004-04-25T02:10:09Z</published>
    <updated>2004-04-25T02:10:09Z</updated>
    <content type="html">&lt;img src="http://ddyva.jeeran.com/mawar2a.jpg" width="300" height="450" alt="" align="middle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto (lagi), sisanya bisa diliat di &lt;a href="http://photos.yahoo.com/ddyvafoto" title="my pictures" target="_blank"&gt;flowers in uminonakamichi&lt;/a&gt; album.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu menyenangkan bisa memotret pemandangan, apalagi bunga. Bukan fotografer profesional, cuma menggunakan kamera digital yang kapasitas memorynya sedikit. &lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tentang uminonakamichi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi jalan-jalan ke uminonakamichi matsuri. Bolos dari tpa (sudah lebih sebulan tidak ke tpa). Yang dikunjungi terutama matsurinya, ingin beli makanan buatan ibu-ibu. Risoles, nasi goreng, mie goreng, tahu isi, martabak manis, puding, timus, pastel, perkedel somen. Baru datang ke stand indonesia, sudah ditanya-tanya, 'katanya sakit, udah sembuh?' yang ditanya cuma tersenyum dan menjawab 'udah, alhamdulillah.' Datang jam makan siang, beli nasi goreng, risoles dan perkedel. Selesai di stand Indonesia, keliling tempat matsuri. Di stand syria, beli makanan, entah namanya apa. Seperti roti, tengahnya diisi isian warna hijau yang katanya dari kacang. Lumayan juga.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat Janna di stand Kazakhstan. Baru ngeh, tadinya dipikir Janna dari Turkey atau malah dari Amerika. Ternyata dari Kazakhstan. Pas lewat stand Iran, pancake nya menggoda iman. Tapi mau beli ragu-ragu. Ya sudah, dilewati. Balik lagi ke stand Indonesia. Istirahat sebentar, tapi sambil beli makanan lain. Ambil risoles lagi, terus beli puding. Pas dhuhur, sholatnya di stand Malaysia yang letaknya di sebelah stand Indonesia. Terdengar dari stand Indonesia, musik yang distel di stand Malaysia. Awalnya yang terdengar lagu 'Negaraku', tapi kemudian... eh, kok, bukannya itu lagu soundtrack 'ada apa dengan cinta' ya? Dan terdengar sesudahnya lagu-lagu dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli roti jala di stand Malaysia, lumayan juga rasanya. Lihat di stand Aljazair, ada risoles juga. Yang jaga stand Aljazair orang Indonesia dan Malaysia. Risoles yang dijual di situ, buatan orang Indonesia. Katanya stand itu dibantu sama orang-orang dari KUMSA (Kyushu Univ. Muslim Student Assoc.). Banyak juga orang yang dikenal, 'menyebrang'. Ada orang Malaysia jaga stand Thailand. Di stand Palestina, lihat teman dari Mesir yang bantu-bantu juga. O iya, sempat mencoba makanan dari Mesir. Ternyata rasanya tidak berbeda jauh dengan makanan Syria. Rasanya kok jalan-jalan ke matsuri, makaaaan melulu.&lt;br /&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:30660</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/30660.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=30660"/>
    <title>Gugur di Jalan Allah</title>
    <published>2004-04-17T21:03:55Z</published>
    <updated>2004-04-17T21:03:55Z</updated>
    <content type="html">Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (al-Baqarah:154)</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:30317</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/30317.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=30317"/>
    <title>Penulis dan Menulis</title>
    <published>2004-04-04T03:01:15Z</published>
    <updated>2004-04-04T03:01:15Z</updated>
    <lj:music>I'tiraf - Raihan</lj:music>
    <content type="html">----- dapet dari sebuah situs ------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Setiap penulis pasti akan mati, &lt;br /&gt;tetapi waktu akan mengabadikan apa yang ia tulis itu&lt;br /&gt;maka janganlah menulis dengan tulisan anda&lt;br /&gt;selain yang membuat anda bergembira&lt;br /&gt;pada hari kiamat ketika melihatnya&lt;/div&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:30143</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/30143.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=30143"/>
    <title>peaceful?</title>
    <published>2004-04-01T07:58:44Z</published>
    <updated>2004-04-01T07:58:44Z</updated>
    <lj:music>sekai ni hitotsu dake no hana</lj:music>
    <content type="html">&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peaceful &lt;br /&gt;Discreet &lt;br /&gt;Non-Aggressive&lt;/div&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;font size="-2"&gt;You are easy-going yet discreet. You make friends effortlessly, yet enjoy your privacy and independence. You like to get away from it all and be alone from time to time to contemplate the meaning of life and enjoy yourself. You need space, so you escape to beautiful hideaways, but you are not a loner. You are at peace with yourself and the world, and you appreciate life and what this world has to offer.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;results from &lt;a href="http://users.rcn.com/zang.interport/personality.html" title="personality tests" target="_blank"&gt;this test&lt;/a&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:29812</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/29812.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=29812"/>
    <title>sakura</title>
    <published>2004-03-31T09:25:17Z</published>
    <updated>2004-03-31T09:27:41Z</updated>
    <content type="html">&lt;img src="http://ddyva.jeeran.com/sakura8.jpg" width="500" height="350" alt="" align="middle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;more pictures in my &lt;a href="http://photos.yahoo.com/ddyvafoto" title="sakura album" target="_blank"&gt;sakura album&lt;/a&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:29686</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/29686.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=29686"/>
    <title>Orang Tua Pemula</title>
    <published>2004-03-22T01:18:27Z</published>
    <updated>2004-03-22T05:33:21Z</updated>
    <content type="html">"Pampersnya udah ada?"&lt;br /&gt;"Pampers? mmmm... udah kayanya.", yang ditanya berpikir sambil agak bingung.&lt;br /&gt;"Pampersnya yang kaya gimana?"&lt;br /&gt;"kaya gimana ya? ya... kaya yang ada di gambar aja", tambah bingung. &lt;i&gt;Emang pampers itu ada berapa macem, sih?&lt;/i&gt;, ngebatin dalam hati.&lt;br /&gt;"Ini lho.. kalo pampers buat bayi baru lahir sama bayi umur beberapa bulan itu kan beda. Liat di bungkusnya, yang ada tulisan umareta, berarti buat bayi baru lahir. Bayi umur 3-4 bulan beda lagi pampersnya. Umur lebih gede, beda juga."&lt;br /&gt;"Ooohh..." agak ngerti. &lt;i&gt;Jadi gitu ya, pampers itu beda-beda jenisnya. Sebentar.. rasanya kok belum ada pampers di list yang harus dibeli ya? hmm..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah sedia apa aja untuk si dede?"&lt;br /&gt;"Belum banyak, niatnya mau minta beliin baju di Indonesia aja. Lebih murah."&lt;br /&gt;"Eh... jangan.. mending beli di sini kalo baju sih. Kualitasnya kan beda, udah gitu beda musim juga. Katanya kalo baju Indonesia dicuci disini suka cepet rusak"&lt;br /&gt;"Ah, masa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Udah nyiapin apa aja buat nanti?"&lt;br /&gt;"Apa ya? baru nyiapin yang ada list barang-barang yang harus dibawa ke rumah sakit aja. Itu lho, list yang dapet dari byouinnya. Baju dalem satu stel, handuk, sama celana buat pampers. Emang perlu apa lagi?"&lt;br /&gt;"Lho? baru itu?"&lt;br /&gt;"Hehehe.. iya, niat beli pampers aja baru kepikiran minggu kemaren. Dan baru tau juga kalo pampers buat bayi beda-beda."&lt;br /&gt;"Bak mandi udah ada?"&lt;br /&gt;"Udah, itu juga ditawarin. Kalo gak ditawarin, gak kepikiran"&lt;br /&gt;"Belum beli baju?"&lt;br /&gt;"Nanti mungkin, minggu-minggu depan"&lt;br /&gt;"Sedia kaos kaki juga buat di byouin. Biar pas keluar byouin, bayinya dipakein kaos kaki biar gak dingin."&lt;br /&gt;"Kan udah gak musim dingin?"&lt;br /&gt;"Iya, tapi kan namanya bayi, baru ketemu udara luar, biasanya kedinginan. Buat jaga-jaga."&lt;br /&gt;"Ooh.." &lt;i&gt;dan kaos kaki pun masuk daftar yang harus dibawa ke rumah sakit.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli baju di Halloday. Tidak terlalu banyak pilihan. Sesudah memilih, akhirnya mengambil yang dirasa cocok. Sampai di rumah, dibuka. Lhoo? kok besar banget? Liat-liat bungkusnya, eeh... ada ukurannya ya? jelas tertulis di situ, 90 cm-13 kg. Ini sih buat bayi umur 6-10 bulan! Ukuran paling kecilnya, ditulis di kemasan, 70 (artinya 70 cm-9 kg). Yaaa.... gak papa deh, kegedean juga. Daripada kekecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beli baju di Jusco. Baju tangan panjang, tangan pendek, baju langsung, celana panjang. Kali ini benar-benar memperhatikan ukuran yang ditulis di kemasan. Beli yang ukuran 60-70. Ternyata selain ukuran, ada lagi patokan lain, musim. Beberapa baju ditulis 'all season', ada juga yang ditulis '3 season'. Dari jusco, hadir di acara perpisahan PPI Fukuoka.&lt;br /&gt;"Di Jusco lagi ada baju-baju yang murah. 2 stel harganya 200-500 yen. Beli bajunya di jusco aja."&lt;br /&gt;"Iya, tadi udah beli di jusco. Tapi baru 2 stel- 2 stel aja belinya."&lt;br /&gt;"kalo mau beli baju dalem, mending di Indonesia aja, lebih murah. Lagian kan dipake buat di dalem juga. Kalo baju luar, mending beli di sini. Bagus-bagus."&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Emang baju luar sama baju dalem itu bedanya gimana? yang beli di jusco tadi, yang harganya 200-500 yen itu masuk katagori mana? baju luar atau baju dalem?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;::::::::::::::::::&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghitung minggu yang tinggal beberapa lagi... ganbarimasu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:29301</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/29301.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=29301"/>
    <title>Seorang Mukmin</title>
    <published>2004-03-12T02:31:54Z</published>
    <updated>2004-03-12T02:32:27Z</updated>
    <lj:music>Damba Cinta-Mu -- Raihan</lj:music>
    <content type="html">Rasulullah SAW bersabda: Sungguh unik urusan seorang mukmin itu. Segala keadaannya adalah baik baginya. Dan itu tidak terjadi pada seseorang kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Tetapi jika ia mendapat kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya. (HR. Muslim)</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:29117</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/29117.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=29117"/>
    <title>new picture album</title>
    <published>2004-03-08T01:10:28Z</published>
    <updated>2004-03-08T01:10:28Z</updated>
    <content type="html">Went to see plum in dazaifu yesterday. Some pictures can be seen in my new &lt;i&gt;&lt;b&gt;plum in dazaifu &lt;/b&gt;&lt;/i&gt; album  &lt;a href="http://photos.yahoo.com/ddyvafoto" title="plun in dazaifu" target="_blank"&gt;here&lt;/a&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:28858</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/28858.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=28858"/>
    <title>Tak Bisa Menahan Godaan..</title>
    <published>2004-03-05T09:01:55Z</published>
    <updated>2004-03-05T09:04:58Z</updated>
    <lj:music>Bismillah - Raihan</lj:music>
    <content type="html">Kamis pagi, cuaca di Fukuoka yang sebelumnya hangat jadi dingin kembali. Siap-siap pergi ke toshokan. Kegiatan yang rutin dilakukan tiap 2 minggu, kecuali kalau memutuskan tidak meminjam buku. Jam 9 pagi seharusnya sudah melangkahkan kaki ke kyudai kitamon. Tapi ternyata... subhanallah.. salju turun lagi. Baru siang harinya, ba'da dhuhur, melihat cuaca yang sudah lebih baik, bisa pergi ke perpustakaan kota di momochi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tempat favorit di Fukuoka. Meski perlu sekitar 40 menit dengan bus untuk pergi, tapi sepertinya tidak pernah rugi pergi ke sana. Banyak yang bisa dilihat: fukuoka tower, pantai momochi, studio TNC, museum kota, atau hanya sekedar melihat-lihat lingkungan sekitar sebelum akhirnya belok ke toshokan.&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, sebelum ke lantai 2 untuk melihat buku, buku yang sebelumnya dipinjam dikembalikan dulu ke bagian book return. Niat awalnya, berusaha untuk tidak meminjam buku. Ada beberapa alasan kenapa tidak ingin meminjam buku dulu. Yang paling utama adalah, karena saat mengembalikan kemarin adalah hari kerja. Berangkat sendiri, artinya nanti saat membawa buku pinjaman juga sendiri. Itu berarti, buku yang dipinjam haruslah tidak terlalu banyak, cukup untuk dibawa seorang diri oleh ibu hamil. Karena meminjam saat hari kerja, kemungkinannya, dikembalikan juga saat hari kerja. Sendiri lagi? malas rasanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah mengembalikan buku, melihat jam baru menunjukkan sekitar pukul 15 lewat 15. Masih ada kira-kira 56 menit sebelum jadwal bus no 24 dari fukuoka tower minamiguchi pergi. Jalan dari toshokan ke halte kira-kira 10 menit, artinya ada 46 menit tersisa. Pergi ke lantai 2, melihat-lihat femina. Ada femina edisi 2 minggu lalu di Indonesia. Masih belum bisa dipinjam, baru bisa dipinjam tgl 6 nanti. Lihat-lihat majalah edisi lama dan memutuskan mengambil satu untuk dibaca di situ. Pergi ke rak buku bagian buku-buku dari north america. Saat 2 mingggu lalu ke perpustakaan, ada buku Anna Quindlen 'Blessed'. Tapi melihat tebalnya... duuh... rasanya untuk dibawa sendiri terlalu berat. Bagian novelnya, selalu membuat diri bisa berlama-lama memperhatikan judulnya. Ada JRR Tolkien 'Lord of The Rings', ada buku-buku Stephen King, buku-buku Danielle Stelle, buku-buku seri 'Mary Poppins', dan banyak lagi deretan lainnya. Berhasil menahan godaan untuk tidak mengambil salah satu novel. Kemungkinan besar tidak akan terbaca di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindah ke rak sebelahnya. Ada buku-buku Chicken Soup, Mars and Venus at Work, Don't Sweat Small Stuff, buku karya Dave Pelzer, juga buku lainnya. Hmm.. ada buku yang cukup menarik. Who Moved My Cheese-nya Spencer Johnson. Endorsementnya benar-benar membuat diri tidak kuasa untuk membuka sedikit halaman bukunya. Pinjam..jangan..pinjam...jangan... ah, pinjam deh, toh bukunya kurang dari 100 halaman. Tidak terlalu berat. Godaan untuk meminjam terlalu kuat, sampai akhirnya memutuskan untuk mengambil 2 buku lainnya dari deretan yang sama. Melihat ke deretan lain, seperti biasa, komik bilingual sazae san. Kemarin pinjam edisi 4, tak ada edisi 5 di deretan itu. Ambil yang nomor 6 deh.. Dan akhirnya.. 4 buku plus satu femina dibawa pulang ke rumah setelah sebelumnya melaporkan ke bagian peminjaman buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung rasanya, kemampuan membaca kanji masih rendah. Kalau tidak, rasanya buku-buku di lantai 1 yang hampir keseluruhannya berbahasa jepang ada yang dipinjam juga. Selama ini, tiap kali memperhatikan buku berbahasa jepang, yang jadi perhatian adalah sampul buku yang begitu menarik. Beberapa begitu sederhana desain sampulnya, tapi justru kesederhanaan itu yang menjadi kekuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kejadian menarik saat pulang dari perpustakaan. Seperti biasa, lewat stasiun tv yang menayangkan film drama Takuya Kimura 'Pride'. Menunggu di depan TNC. Saat bus 24 datang, sopirnya mengumumkan kalau bis ini ke kyudai kitamon. Eh.. biasanya bukan kyudai kitamon yang diumumkan, kok? Saat sampai di Hakozaki Matsubara, bersiap-siap karena akan turun di halte berikutnya. Sopirnya kemudian dengan ramah berkata, 'turunnya di kyudai kitamon, kan?' eh.. bingung sebentar sebelum mengangguk cepat, 'iya.' Kok bisa? Mungkin karena tampilan yang membawa 2 tas: ransel dan tas yang dijinjing dengan 4 buku dan majalah, bapak sopirnya menduga kalau saya mahasiswa kyudai. &lt;br /&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:28645</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/28645.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=28645"/>
    <title>Tempe</title>
    <published>2004-02-27T01:38:32Z</published>
    <updated>2004-02-27T01:38:32Z</updated>
    <content type="html">Kemarin belajar membuat tempe di rumah salah seorang ibu. Banyak ilmu yang bisa diserap. Mulai cara pembuatan tempe, peralatan yang dibutuhkan, poin-poin penting yang harus diperhatikan, sampai ke informasi toko yang menjual kacang kedelai mentah. Sebenarnya, soal tahapan pembuatan tempe, di internet ada beberapa situs yang pernah memuat soal itu. Tapi perlu juga belajar langsung ke orang yang sudah terbiasa membuat tempe di sini, karena banyak informasi berkait dengan situasi dan kondisi fukuoka yang bisa didapat.&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Niat membuat tempe sendiri sudah ada sejak beberapa bulan lalu, tapi masih ada kendala. Ketika itu, proses pembuatan tempe diperoleh dari salah stau situs di internet. Tapi ada informasi yang susah didapat, dimana bisa membeli kacang kedelai mentahnya di fukuoka sini ya? setiap kali ke swalayan atau toko bahan makanan, yang ditemui kacang kedelai yang sudah direbus. Kemarin baru dapat informasinya, ternyata ada toko di dekat rumah yang menjual kacang kedelai per 300 gram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kesimpulan besar yang diperoleh dari proses belajar membuat tempe kemarin adalah, membuat tempe sendiri ternyata sulitnya bukan main. Banyak tahapan kritis yang harus dilalui supaya hasilnya bagus. Sudah begitu, proses pembuatannya pun makan waktu yang lama. Merendam kedelai mentah perlu waktu kira-kira 12 jam. Setelah direndam, direbus selama 30 menit dengan air yang banyaknya mencapai 2 ruas jari dari batas atas kedelainya. Kedelainya kemudian dibersihkan dari kulit dengan cara diremas-remas. Buih yang keluar saat peremasan dibuang sambil membuang kulitnya. Kedelai dianggap bersih, jika saat meremas air rendamannya bening/jernih. Sesudah itu, kedelai direndam lagi semalaman. Kedelai kemudian dikukus. Jangan sampai air yang ada di bawahnya mengenai kedelai. Kalau bisa, panci pengukusnya adalah panci yang alas untuk kedelainya berlubang-lubang. Proses pengukusan dilakukan selama 30 menit. Selesai dikukus, kedelai diletakkan di atas tampah untuk didinginkan. Diamkan sebentar hingga hangat. Saat kedelai suhunya agak hangat, baru diberi ragi yang banyaknya kira-kira 1 sendok teh untuk satu kilo kedelai. Diamkan sebentar sebelum dikemas dalam plastik. Sesudah dikemas dalam plastik, kedelai disimpan dalam suhu ruang selama minimal 36 jam. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah harus dihindari karena bisa menyebabkan ragi tidak bekerja optimal. Wah... susahnya.. &lt;br /&gt;Kalau sudah begini, jadi ingat indonesia.. Pengen tempe, beli aja.. murah dan gampang.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:28204</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/28204.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=28204"/>
    <title>Just want to share..</title>
    <published>2004-02-20T12:21:21Z</published>
    <updated>2004-02-20T12:21:21Z</updated>
    <content type="html">Hari ini pergi ke toshokan lagi. Pulangnya menyempatkan diri memotret suasana pantai momochi. Ternyata susah juga dapet foto bagus... Beberapa hasil yang dianggap layak bisa dilihat &lt;a href="http://photos.yahoo.com/ddyvafoto" title="album foto ddyva" target="_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Tidak semuanya hasil jepretan hari ini. Beberapa dijepret beberapa minggu lalu. &lt;font size="-2"&gt;---- Mencoba album online yang baru, setelah sebelumnya mencoba beberapa album online lain.----&lt;/font&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:nurafiati:28108</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://nurafiati.livejournal.com/28108.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="http://nurafiati.livejournal.com/data/atom/?itemid=28108"/>
    <title>Tiga Hal yang Tidak Luput dari Seseorang</title>
    <published>2004-02-14T10:27:43Z</published>
    <updated>2004-02-14T10:27:43Z</updated>
    <content type="html">Pagi ini baca majalah Tarbawi. Ada kata-kata yang menarik untuk direnungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tiga hal, yang seseorang tidak bisa selamat dari sebagian diantaranya: prasangka, gegabah dan dengki. Akan kuberitakan kepada kalian bagaimana cara keluar dari ketiganya. Jika engkau menyangka, maka janganlah engkau menyelidiki. Jika engkau gegabah, maka lewatilah. Jika engkau dengki janganlah berbuat aniaya. (H.R Ibnu Abid-Dun-Ya).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="cutid1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika engkau menyangka, maka janganlah engkau menyelidiki&lt;/i&gt;. Hmm... sesuatu yang jadi bahan perenungan panjang. Entahlah, rasanya membaca bagian ini terasa ada yang langsung mengena di hati. Pernah ada saat, kita memiliki prasangka dan rasanya ingiiiiin sekali bisa memastikan benar atau tidaknya prasangka kita itu. Namanya prasangka, umumnya yang kita (saya maksudnya) ingin sekali tahu kepastiannya adalah prasangka yang kurang baik (mungkin malah bisa disebut sebagai prasangka negatif - su'uzhon). Karena kalau yang ada dalam pikiran dan perasaan adalah prasangka baik, kita akan dengan mudah melupakan dan membiarkan apa yang terjadi sebagaimana adanya. Seringkali, upaya mencari kepastian tentang suatu prasangka itu dilandasi dengan niat iseng. Maksudnya mungkin, kalau sudah jelas apakah prasangka itu benar atau tidak, setidaknya hati menjadi tenang. Benarkah akan menjadi tenang? entahlah.. bisa jadi bukan ketenangan yang diperoleh tapi malah kekecewaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam Al Qur'an surat Al Hujurat ayat 12 sudah jelas dikemukakan mengenai prasangka ini. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Astaghfirullahaladziim.. Rasanya saya perlu sekali banyak beristighfar karena merasa masih saja sulit menjauhkan diri dari berprasangka terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ilmu menghindari prasangka negatif ini sudah lama diperoleh dan juga seringkali didengar di banyak forum. Obat prasangka negatif adalah berpikir positif! Contoh kecil yang sering dialami. Ada saat kita berjumpa dengan teman, dan beliau luput menyapa kita. Segera saja, lintasan hati kita umumnya 'sombong benar orang ini!' Dan kemudian di saat lain, ketika kita bertemu dengan beliau lagi, kita segan untuk mencoba menyapanya terlebih dulu. Kadang-kadang malah, saat berbincang dengan teman yang lain, kita mungkin akan mengucapkan 'beliau itu sombong ya, ketemu di jalan kok gak nyapa. Pura-pura gak ngeliat gitu..' Astaghfirullah... Padahal mudah saja bagi kita untuk berpikir positif, dan berpikir positif pun tidak memberikan kerugian buat kita. Kita bisa saja berpikir saat bertemu beliau dan tidak disapa, 'ah, mungkin beliau sedang sibuk dan buru-buru karena ada urusan.' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diakui, menghindari prasangka dan berpikir positif butuh usaha dan tekad yang kuat dalam diri untuk menjadikannya sebuah perilaku. Tapi bukan berarti hal itu tidak bisa dilakukan. Mudah-mudahan kita bisa melakukannya..&lt;br /&gt;</content>
  </entry>
</feed>
